Perkenalan

Lampu kantor mati tepat di saat jarum jam menunjuk pukul 17:00 WIB. sesaat lagi semua orang dikantor ini akan kembali kepada orang-orang yang merindukannya.

kulongok kaca depan yang mengarah ke jalan. melihat riuhnya jalanan ibu kota yang penuh kemacetan.

terlihat di antara gedung-gedung pencakar langit, cipratan cahaya yang menentramkan jiwa. tentu itu adalah senja.

seketika aku teringat kejadian 4 tahun lalu. dimana untuk pertama kalinya aku menginjakan kaki di kantor ini sebagai karyawan baru.

Hanya dalam rentang waktu ‘selamat datang’ dan ‘selamat tinggal’ senja, kamu berhasil merusak tatanan pikir yang sudah rapi terparkir antara aku dan dia.

“Asti, salam kenal.” jawabmu tanpa menampakan muka.

tanpa memperdulikan tanganku yang terulur, itulah awal perkenalan kita yang terlihat akur.

Mataku tersinggung, allhamdulillah emosiku masih terbendung. Ini membuatku bingung dan termenung. adakah tindakanku yang salah? karena saat ini aku canggung.

Bukanlah aku jika tak pandai memendam perasaan. Sifatku yang pendiam, dingin seperti suhu di sepertiga malam. sangatlah mudah menyembunyikan perasaan dalam tumpukan sekam.

Tapi sihir apa yang sebenernya kamu ucapkan? Bagai terserang sihir cinta. Nampaknya aku gejala cinta pandangan pertama. tapi apakah masih pantas aku merasakan cinta ?

Tentangmu di awal perkenalan telah tersimpan di folder khusus berlabel bukan sekedar teman berartribut sembunyikan. dan tak akan mungkin dapat orang lain menemukan kecuali aku yang menciptakan.

ragaku berlalu meninggalkanmu, dengan perasaan yang tak menentu. dari sekian teman yang hari berkenalan hanya kamu yang membuatku penasaran.

kulanjutkan rangkaian tour perkenalan, menyisiri ruang-ruang bersekat yang kini penuh dengan kenangan. ruang bersekat dimana kita pernah saling mengikat.

Duduk diatas roda waktu, mengtukmu aku tak mampu. menarik nafas panjang untuk tetap tenang, karena waktu untuk mengenalmu masihlah panjang.

Kelak jika mengenalmu, aku akan menanyakan ini kepadamu. bersiaplah mencari jawaban atas apa yang kamu lakukan. agar aku tak mengutukmu perempuan tanpa perasaan.

senjapun tenggelam seiring berakhirnya lamunan. pulang adalah sebuah kewajiban. jalan yang dulu aku lalui penuh keceriaan, kini berubah menjadi kenangan. setiap langkah yang kulakukan, ada canda tawamu yang tak ingin aku lupakan. dulu hanya halte busway memisahkan, kini jadwal pulang pun tak bisa lagi kita samakan.

Tuhan, kutitipkan dia kepada-Mu. rasa ini engkau yang tumbuhkan, dan tak mungkin aku elakan. Tuhan jangan sampaikan padanya jika aku merindu, biarkan dia terbebas dariku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.