Pecundang Berharap Disayang

Seharusnya aku tak mengetahui rencananmu bersamanya. Tetapi siang itu dia membuka lebar percakapanmu di whatshap, entah untuk membuatku cemburu atau dia mengajakku untuk ikut menyeretmu di dalam rencananya. Yang aku tahu kamu akan pergi sore nanti untuk membuktikan janji.

Seharusnya aku bahagia melihatmu tertawa lepas. Tetapi sore itu ada yang tertahan di dalam dada, membuatku sulit untuk tersenyum ataupun ikut tertawa. Ada dua kemungkinan absurd jika kamu ingin menanyakanya kenapa.

Pertama bisa jadi karena rasa cemburuku yang tak tahu malu. Ya harusnya aku malu, atas penolakan-penolakan yang kamu lakukan belakangan ini. Aku tak cukup dewasa memahami gejolak cemburu ini.

Kedua, mungkin karena aku terlalu berharap sore ini adalah waktu kita untuk asiknya menyantap pop corn di tengah kerumunan manusia penanti film Marvel. Tidak perlu mempersiapkan jawaban, karena aku masih ingat betul kamu belum memberikan jawaban, diwaktu aku mengajakmu minggu lalu.

Seharusnya aku berani mengungkapkan. Tetapi hari ini berbeda karena aku menyadari kamu sedang tidak ingin diganggu ataupun didekati. Menunggumu kembali hal pecundang yang selalu aku ulangi.

Seharusnya aku tidak mengingat kejadian hari ini. Tetapi kamu selalu menghampiri walau hanya melalui mimpi. Andai mimpi itu bisa kita rencanakan, pastilah kamu yang selalu aku inginkan. Karena mengajakmu bercengkrama belakangan ini hanyalah mimpi dalam kenyataan.

“Seharusnya, aku dan kamu …..”

Tidak! Tidak seharusnya aku mengeluh atas apa yang terjadi. Semua yang akan terjadi tetaplah terjadi, aku hanya tidak ingin mengaborsi perasaan yang belum tepat waktunya untuk menghilang.

Tidak seharusnya aku menyerah karena aku adalah si Bebal. Tidak seharusnya aku menjadi baik karena aku adalah si Jelek. Tidak seharusnya aku berani karena aku adalah si Pecundang. Tidak seharusnya aku disayangi karena aku adalah yang menyangi.

Kembali pada realita setelah aku membuka mata. Kamu tetaplah perempuan penghuni ruang rindu di dalam dada. Tidak mampu aku menolak kebenaran yang ada, jika kamu tetaplah orang yang aku cinta.

Sepertinya kamu sudah bisa melupakan semua tentang kita. Tetapi jangan sesekali kamu datang untuk mengjari aku untuk melupakannya.

Sepertinya kamu tidak sedang bercanda berkata melakukan ini semua karena tidak tega. Tetapi jangan sesekali kamu berkata aku menyerah untuk mencinta.

Sepertinya kamu tidak terlalu sibuk besok, masih bisakah kita nonton bersama?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.