Untuk Mu

Residu rindu membawaku kepada sebuah ruang sunyi tak bertuan. Mengais kenangan manis, menumpahkan sampah air mata berserakan. Tentangmu memang tak akan pernah bisa aku lupakan, meski ombak waktu terus mengikis. Senyuman indah dengan hidung minimanilsmu tetaplah yang termanis.

Selamat tahun baru untuk hati yang enggan berlalu. Mengingatmu adalah resolusi tahun ke tahun yang tak pernah tertulis. Meski nyatanya sampai kata ini terlukis, lesung pipi dan khas tawamu bergelantungan sangat akrobatis di pikiranku. Miris mengiris hati, di tengah ramainya ribuan pasang muda-mudi berpesta kembang api. Tetap saja aku enggan ke lain hati, meski raga ini telah menemukan jari jemari yang siap menggenggam sampai akhir hayat nanti.

Di setiap dentuman kembang api yang berbunyi, telah aku bakar sumbu luka yang kamu berikan. Berharap di tahun yang telah berganti. Hati ini berdamai dengan masa lalu yang selalu menggerogoti jantung hati. Di setiap percikan indah yang membelah cahaya rembulan, di tengah ribuan mata yang terpana melihat keindahan. Ada aku yang menggila di ruang sunyi, mengatur jutaan penghuni penjara rindu yang berkompromi satu sama lain untuk keluar merayakan tahun baru bersama bayangmu.

Lelah memang menjadi aku yang tak becus bekerja menjaga tawanan rindu. Harus berurusan panjang dengan atasan dan meyakinkanya setiap waktu bahwa aku mampu meski nyatanya tentangmu adalah tawanan rindu yang tak pernah bisa aku jaga. Keluar masuk sesuka hati, tak perduli siang ataupun malam hari. Ini teguran yang kesekian kali, dan nama ______ tetap menyelinap di awal tahun ini.

Bodoh!

Memang bodoh, masih saja aku mencari jawaban “kenapa” darimu yang mungkin sekarang bertanya “Siapa” jika Tuhan mengijinkan kita bertemu. Memang bodoh, masih saja aku menyisipkan namamu di setiap doaku. Memohon kepada tuhan menurunkan sebuah keajaiban supaya bisa bertemu denganmu sekali lagi, hanya untuk melepasmu dengan ribuan pertanyaan yang telah terjawabkan.

Dari Lyla hingga Fiersa Besari, dari bernafas tanpamu sampai garis waktu. Aku sangat sadar aku hanya serpihan kisah masa lalu yang terbang dan hancur bersama ledakan kembang api tahun baru, tak pernah terlihat dari mata hatimu.  Aku diam bukan berarti tak memperhatikan, kamu yang terbaik juga yang terburuk. Kamu yang mengajarkan jatuh hati dan arti patah hati.


Hai,
Sudah pergilah jangan kembali lagi.
Cukup berenanglah di lautan kata-kata
Menyelamlah  ke dasar nestapa
Aku sangatlah rindu buih-buih bahagia

Pada temaran senja yang membias jingga
Aku berlajar berdamai dengan lara

Boleh saja kita terluka karena kecewa
yang tidak boleh adalah
menggantungkan segala harap selain kepada-Nya

M.s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.